Kita hidup dengan norma dan nilai yang menjadi batasan kita dalam bertindak, kehadirannya bukan membelenggu kita, tetapi menjaga kita dari kekacauan. Saat kita mengetahui adanya ketidak benaran dalam melakukan sesuatu, tentunya hal tersebut akan membuat kita berpikir ulang. Bila kaitannya dengan agama, yang akan kita pikirkan adalah dosa.
Bagaimana jika kita berbicara pada tataran perilaku nyata? Mari kita singkirkan nilai, norma serta agama karena jika berbicara ketiga hal tersebut, terlalu jauh untuk dilihat (abstrak). kita lebih baik berbicara mengenai kebenaran yang merupakan hasil subjektifitas berjamaah. Kok gitu????
Yaiya… lah.. suatu hal dianggap benar karena banyak orang yang bilang benar. Dan gak dianggap benar juga karena demikian.. kalau saja orang dulu berkata bahwa makan make kaki itu hal yang baik.. maka hal tersebut pastinya akan terus berlangsung hingga sekarang..
Yang menjadi masalah adalah.. jangan sampai diri kita terjebak pada kebenaran semu. Kebenaran yang tidak pernah kita ketahui asalnya…dan hanya kita yakini dari kata “katanya”.
Karena di dunia ini tidak ada kebenaran yang sebenar-benarnya benar.
Kita diberikan akal untuk bisa menelaah segala hal di dalam kehidupan sehingga bisa kita bedakan mana yang benar dan mana yang tidak benar..dan dalam setiap tindakan kita pun harus diyakini bahwa yang kita lakukan itu benar.. apabila orang berkata hal tersebut tidak benar.. maka buatlah pembenarannya. Karena tidak ada gunanya kita menyesali perbuatan yang sudah terlewati… hidup ini hanya sekali (yang saya yakini) kita tidak bisa mengulanginya.. jika kita terpaku pada kenangan akan ketidakbenaran yang pernah kita lakukan… kita tidak akan pernah maju berjalan.
